Program “Wajib Mengajar” di daerah terpencil di Indonesia

Kalau saya melihat ulasan berita mengenai pendidikan di daerah timur Indonesia, rasanya seperti melihat daerah lain tapi bukan Indonesia. Hal ini saya rasa dikarenakan selama hidup saya, saya hanya hidup di Jawa dan hanya beberapa kali sempat menikmati kehidupan di luar pulau Jawa.

Pada masa kecil, saya sempat tumbuh di Kalimantan Selatan, tepatnya di Banjarmasin. Namun hal itu tidak berlangsung lama. Hanya sekitar 4 tahun. Kemudian saya beserta keluarga tinggal di pulau Jawa, karena memang sebagian besar keluarga ada di sana.

Beranjak dewasa, saya sempat kembali mengunjungi Banjarmasin. Seperti ada beberapa orang bilang bahwa kalau sudah pernah mandi di sungai Barito pasti akan kembali lagi kelak. Ternyata, pada saat saya Taruna tingkat III, Latsitarda tahun itu diadakan di Banjarmasin. Memang kebetulan.

Pada saat itu saya selama 1 bulan bekerja sama dengan masyarakat suatu desa (yang, maaf, saya lupa namaya) untuk membangun infrastruktur desa tersebut, seperti jalan, perairan, dsb. Syukur, semuanya berjalan lancar.

Selama berada di sana, saya cukup melihat untuk akhirnya menyadari bahwa masih terdapat beberapa daerah di Indonesia yang belum cukup berkembang. Saya membayangkan bagaimana dengan daerah timur Indonesia?

Selama ini saya belum pernah menginjakkan kaki dan tinggal untuk waktu yang cukup lama di daerah timur Indonesia. Apalagi di daerah-daerah pedalaman. Yang saya ketahui hanyalah dari tayangan televisi dan berita-berita di koran. Bila dilihat dari sisi pendidikan, daerah timur Indonesia senantiasa dikatakan ‘tertinggal jauh’ dari Jawa. Memang hal ini berasal dari orang-orang yang pernah mengalami perbedaan antara kehidupan di Jawa dengan di luar Jawa, terutama di daerah timur Indonesia.

Berkenaan dengan masalah pendidikan, saya punya ide yang mungkin juga bisa memicu diskusi yang bersifat membangun. Ide saya ialah, bagaimana kalau ada istilahnya “wajib mengajar” di daerah-daerah terpencil di seluruh Indonesia? Terutama bagi para tenaga pengajar yang telah menjadi PNS. Saya sendiri buta mengenai teknis menjadi tenaga pengajar di Indonesia, namun sekiranya ide ini dapat diterima dari sisi baiknya, yaitu bahwa adanya pemerataan di tingkat pendidikan di seluruh daerah di Indonesia.

Sebenarnya ide ini juga muncul setelah saya melihat tayangan debat capres kemarin. Salah satu ulasannya terdapat bagian dimana tingkat pendidikan yang rendah diperkirakan memiliki hubungan langsung dengan tingkat kesejahteraan masyarakat. Kemudian saya berpikir, mungkin memang begitu adanya. Lalu, muncullah ide ini.

Saya memang pernah mendengar bahwa kedokteran memiliki program seperti ini, yangmana saya tidak terlalu paham akan bagaimana proses berlangsungnya. Namun saya pikir, apa mungkin juga bila sistem yang sama diterapkan kepada tenaga pengajar? Namun demikian, tetap saya rasa peranan pemerintah haruslah besar dalam ‘merangsang’ minat tenaga pengajar untuk membangun daerah terpencil Indonesia melalui pendidikan. Misalnya saja sebagai contoh, bagi tenaga pengajar yang telah menjalani ‘wajib mengajar‘ selama setahun di daerah terpencil dan memutuskan untuk meneruskan mengajar di sana, akan diberikan penghasilan yang lebih besar daripada penghasilan rata-rata tenaga pengajar yang berada di daerah maju, seperti Jakarta/Pulau Jawa. Katakanlah, gaji pokoknya 3x lipat gaji pokok tenaga pengajar di Jawa. Atau mungkin diberikan fasilitas lainnya seperti mes ataupun tempat tinggal layak bagi tenaga pengajar tersebut dan keluarganya. Dengan demikian, tenaga pengajar tersebut akan merasa tertarik untuk mengajar lebih lama lagi di daerah tersebut. Niscaya, perlahan-lahan dengan tingkat pendidikan yang tidak begitu timpang dengan beberapa daerah maju di Indonesia, daerah tersebut akan memiliki kemampuan untuk mengembangkan dirinya sehingga diharapkanĀ  kesejahteraan sosial bagiĀ  rakyat Indonesia dapat merata. Selain itu, saya kira program ini sejalan dengan program pemerataan penduduk. Jadi, sekali mengayuh, dua-tiga pulau dilalui.:)

Mohon maaf apabila ulasan unek-unek di atas terkesan dangkal ataupun tidak berkenan di hati. Saya tidak bermaksud menyinggung pihak manapun. Hanya sekedar menyalurkan pendapat/opini. Namun sekiranya ada manfaatnya, saya bersyukur.

About these ads

~ by Rod on June 26, 2009.

6 Responses to “Program “Wajib Mengajar” di daerah terpencil di Indonesia”

  1. Hai! Saya gak sengaja baca ini, dan uneg2 mas mengingatkan saya pada sebuah SD negeri yang pernah saya datangi waktu KKN pada tahun 2005 (bukan di daerah timur sih) letaknya di kabupaten Garut tp cukup bikin miris.Kebetulan saya jadi tenaga pengajar sukarela di sana selama dua bulan.Yang memprihatinkan bukan hanya sekedar kondisi bangunannya ( setiap hujan turun, sekolah diliburkan) atau tenaga pengajarnya ( 1 guru untuk mengajar 4-6 kelas dan semua mata pelajaran), tapi lebih kepada murid-muridnya itu sendiri.Mereka sama sekali gak punya motivasi untuk belajar. Mereka cenderung berpikir skeptis , seperti ” Buat apa kita belajar bhs inggris, kl nanti kita juga cuma jadi petani tomat?atau Teteh saya sekolah sampe SMA, tp juga cuma jaga warung!”. Dan keadaan ini sempet bikin kami putus asa…Gimana caranya mengubah pola pikir anak2 dan orangtua untuk memahami terlebih dahulu pentingnya belajar tanpa selalu dikaitkan dengan ekspektasi perbaikan ekonomi.Karena ketika kembali ke dunia nyata, harapan2 itu kan gak selalu tercapai, yang pada akhirnya menimbulkan kekecewaan dan mematikan minat/rasa ingin tahu mereka…Nah,kebayang deh gmn anak2 yang berada di kawasan timur Indonesia yang mungkin orangtua mereka lebih tidak familiar dengan sekolah…Donc, mungkin dengan mengadakan program wajib mengajar (C’est une bonne idee), kita bisa mengirim guru2 yang berkompeten, untuk menghilangkan skeptisme di pikiran anak2 dan orangtua yang belum pernah merasakan manfaat belajar sesungguhnya dari belajar dan menjadikan kegiatan belajar itu sesuatu yang menyenangkan…Bukan guru-guru yang semata-mata menjadikan profesinya sebagai mata pencaharian…
    Maaf yaa, kl comment saya keluar dari subjek.Hehe….

    • Halo Kore! Saya senang sekali melihat comment kamu disini! Dan saya harus bilang, memang kondisi yang kita miliki sekarang seperti itu. Tapi, hal ini juga mengingatkan saya sewaktu saya masih bersekolah dulu. Saya juga termasuk salah satu murid yang tidak terlalu termotivasi untuk belajar. Setelah saya pikir-pikir (ketika lebih dewasa), hal ini dikarenakan pandangan saya yang terbatas akan masa depan. Saya tidak tahu mau jadi apa, dan kalaupun saya tahu, saya tidak tahu seperti apa pekerjaan itu lebih jelasnya dan bagaimana mencapainya. Dari sini, sisi motivasi yang semestinya ada sudah hilang. Dan benar sekali yang kamu bilang bahwa kita perlu memiliki guru2 yang berkompeten dalam hal ini. Tidak hanya berkompeten dalam bidang menyalurkan ilmunya, tapi juga dalam memberikan motivasi kepada murid2nya. Atau mungkin hal ini sudah dilakukan di beberapa sekolah dengan adanya mata pelajaran Bimbingan Sekolah atau semacamnya. Namun saya rasa hal ini tidak cukup. Sekolah harus memberikan gambaran gamblang/jelas tentang apa itu dunia kerja (dari berbagai bidang tentunya), dan juga sisi2 positif ataupun negatif dari pekerjaan tertentu. Hal ini mungkin mengingatkan kita pada salah satu kegiatan yang mendatangkan salah satu orang tua murid pada suatu hari tertentu, dan orang tua tersebut bercerita tentang pekerjaannya. Setelah itu para murid dapat bertanya bebas mengenai pekerjaan tersebut. Hal ini tidak perlu dilakukan secara masal satu angkatan, tapi bisa dilakukan per kelas, sehingga menutup kemungkinan adanya murid yang memiliki pertanyaan yang bagus namun malu untuk menyampaikannya.

      Singkat kata, saya setuju sekali dengan pendapat kamu. Semoga teman2 yang lain bisa ikut sumbang pikiran dan, lebih baik lagi, dapat menjadikannya salah satu pertimbangan dalam pelaksanaan pola pengajaran dalam rangka mencerdaskan bangsa. Amin.. ;-)

  2. Aminn…Semoga kita gak sekedar menyampaikan opini namun bisa terjun langsung membuat perubahan walaupun itu gak berarti banyak yaa…

    Oiya saya mau tuker pikiran nih mas, mudah-mudahan mas gak keberatan, tentang gimana caranya mendidik anak. Saya belum pernah menikah dan belum punya anak juga sih, tp pikiran ini muncul ketika saya ngeliat kedua kakak saya yang memilih pola asuh yang bertolak belakang pada anak-anak mereka dan saya bertambah bingung ketika saya melihat pola asuh dari sebuah keluarga di Prancis. Masalahnya menurut saya gak ada yang salah dari pola asuh mereka semua. Kakak saya yang p’1, selalu mengutamakan pendidikan (Anak-anak harus bersekolah di SD unggulan yang memang isinya anak2 berprestasi, mendapat Ranking itu suatu achievement tertinggi, disiplin tinggi, dalam bidang agama pun demikian). Sedangkan kakak saya yang k’2, dia sedari awal membebaskan anaknya dengan pilihan-pilihan, termasuk tentang sekolah. Pada akhirnya ia memasukkan anaknya ke sekolah alam, yang pada dasarnya memberikan kebebasan penuh pada murid untuk belajar sesuai dengan apa yang ingin mereka pelajari di kelas pada saat jam belajar, tanpa ada jadwal mata pelajaran yang terorganisir sebelumnya (walaupun itu berarti setiap anak mungkin memiliki keinginan yang berbeda). Dan yang k’3, famille d’accueil saya ini memberikan kesempatan pada anka2nya untuk bermain sepuas2nya dan menerapkan kemandirian pada anak sedini mungkin. Anak2 masuk sekolah katika mereka sudah cukup umur dan karena mereka memang menginginkannya.
    Hasilnya :
    anak-anak sama2 terlihat bahagia dan excited dengan pola asuh orangtua mereka. Mungkin memang ada plus/minusnya dari pola asuh yang mereka terapkan, dan hal ini membuat saya bingung untuk memilih. Tadinya saya berpikir mungkin pendidikan terbaik untuk anak adalah meng-combine ketiga cara tadi, tapi ketika saya satukan, semuanya jadi gak match dan saya jadi bingung untuk membuat satu konklusi yang benar2 bisa diaplikasikan. Saya sebenernya bukan orang yang well prepared dan ribet juga sih, tp kl menyangkut anak-anak, menurut saya bukan sesuatu yang mubazir untuk dipikirkan dari awal…Hehe…
    Mille Marci!!!

  3. halo saya desy, apakah teman” punya referensi alamat daerah daerah yang masih kurang mendapat perhatian terutam dalam bid.pendidikan seperti hal nya penyediian fasilitas penunjang buku, alat”sekolah atau lainnya??

  4. malem……….
    sy jg g sengaja bc uneg-uneg panjenengan semua. yg jelas sy setuju bget…..banyak daerah-daerah d negara kita yg masih minim tenaga pengajar, padahal mungkin anak-anak didiknya puengeeeen bget bisa skolah,,,,y,,walau mungkin ada yg masih berpikiran agak smpit. tp sy yakin,,ketika mereka benar-benar memahami arti belajar,,,pasti mereka jg pgen sekolah……..
    sy punya cita-cita bs ngabdi di daerah-daerah yg masih minim tenaga pengajar ky gt….
    qt saling kasih motivasi j,,,,sling tukar info y………..:-)

  5. Assalamu’alaikum,
    jujur saja,saya sangat senang ternyata di negeri ini sebenarnya masih ada pemikir-pemikir seperti anda2 smw. Saya sejalur dg pendapat saudara maupun saudari. Problematika yg melanda negeri kita memang sudah terlampau k0mpleks, terlebih lagi negara kita ini luas sekali.
    Bgmana kalau kita membuat k0munitas nati0n volunteers? Sekarang tekn0logi kn sdh canggih,bisa kita manfaatkan. Saya sangat setuju dengan ide2 saudara2 semua,,
    mungkin kita bs usulkan kpd pemerintah mengenai ide wajib mengajar di daerah2 t’pencil yg masih sangat minim pendidikan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: