Sedikit unek-unek soal kebersihan

Beberapa waktu lalu saya jalan dari rumah saya ke salah satu pusat pertokoan tidak jauh dari rumah. Pas lagi jalan, saya melihat 3 hal yang berhubungan dengan kebersihan dan, terus terang, agak ‘nyesek’ dan ‘nge-garuk’ pikiran/hati saya:

1) seorang anak SMP sedang jalan dan minum minuman kotak (entah teh kotak atau lainnya). Setelah selesai minum, dia langsung buang kotak itu ke jalan di depannya tanpa rasa peduli dan lanjut jalan dan akhirnya naik angkutan umum

2) sekumpulan orang sedang senda-gurau di depan warung yang terletak di trotoar. Di depan mereka persis adalah got (mungkin bahasa indonesia yang benar adalah parit ya?) yang penuh dengan sampah dan karenanya menahan aliran air. Saya bisa mencium bau ‘agak’ tak sedap dan lihat nyamuk (dan jentik-jentiknya) di permukaan air yang tersendat itu.

3) seorang ibu sedang menyapu halaman depan rumahnya (yang juga kebetulan adalah trotoar) dan membuang kotoran hasil sapuannya itu (berupa tissue-yang kelihatan jelas, dan beberapa barang plastik) ke got kecil di samping depan rumahnya yang menuju ke got besar.

Nah, mungkin dari 3 ilustrasi di atas ini, teman-teman sudah bisa memperoleh bayangan tentang apa tulisan saya sekarang.

Yang menjadi pertanyaan dan unek-unek saya adalah (sesuai urut ‘penampakan’ di atas):

1) anak SMP!! Apa mereka nggak diajarin kalo buang sampah itu harus ke tempat sampah?? Kira-kira siapa yang mau pungut kotak  minuman itu dari jalanan? Apa dia pikir dengan ‘menghilangnya’ kotak minuman itu dari depan mata dia, kotak minuman itu juga akan menghilang dari jalan dengan sendirinya dan tidak akan menimbulkan masalah kebersihan?? Kalo ternyata kamu adalah anak SMP yang saya lihat waktu itu, saya mau tanya: kalo saya minum minuman kotak, terus saya maen ke kamar kamu, terus saya buang begitu aja di lantai kamar kamu, kira-kira kamu marah nggak? Atau kamu bakalan diam aja dan pura-pura itu nggak ada di situ sampai akhirnya menimbulkan bau tak sedap di kamar kamu? (Kebayang aja deh joroknya kamar kamu kalo sampe ternyata kamu milih untuk diam aja!!)

2) Kok bisa sih nongkrong-nongkrong pas di depan tempat kotor kayak gitu dan nggak peduli?

3) Mmh.., harus agak sopan dengan ibu-ibu nih. Memang sih nyapu itu baik, ‘menjaga’ kebersihan. Tapi kalo perbuatan itu hanya membuat permasalah lain di lain waktu, mending kita rubah caranya sehingga itu nggak akan bermasalah ke depannya kan? Got kecil itu kan bisa mampet dan jadi sumber penyakit karenanya. Nah, jadi niat baik itu ternyata juga harus dipikirkan secara tuntas, dalam artian, satu niat baik harus berakhir dengan sesuatu yang baik juga dong, iya nggak? Kalo nggak, niat baik itu akan ketutupan dengan hasil yang diperoleh. (kira-kira jelas nggak yah??)

Seperti yang saya bilang, ketiga hal di atas ‘nge-garuk’ pikiran saya, antara lain:

1) Saya yakin seyakin-yakinnya bahwa teman-teman yang baca ini tahu dan mengerti bahwa membuang sampah sembarangan itu ‘nggak ada benernya’. (Kalo nggak, jangan buang waktu ngebaca blog saya!) Tapi, berapa dari kita yang mau mengingatkan orang lain (bukan teman, tapi orang yang kita nggak kenal) akan hal itu? Jujur, saya sendiri masih ragu untuk berbuat hal itu. Tapi, saya pernah!

Waktu saya tinggal di Bandung, saat itu sedang ada mogok petugas kebersihan. Jadi sampah itu sampai menggunung di tepi jalan! Baunya nggak karuan. Nah, pas saya lagi naek motor, saya lihat kendaraan menepi di tepi jalan dan si pengendara menurunkan kaca mobil dan membuang gelas plastik Aqua ke jalan. Karena saya lagi kesel-keselnya soal sampah itu, saya langsung berhenti dan mundur. Saya ketok kaca pengendara itu dan saya bilang, “Bu maap, Bandung udah banyak sampah dibuang sembarangan di jalan, Bu.” sambil menyerahkan kembali gelas plastik itu kepadanya. Dan ibu itu tersenyum malu dan meminta maaf serta menerima gelas plastik itu dari saya. Kemudian saya jalan lagi.

Dari kejadian itu saya mikir: Jadi sebenernya ibu itu tau kan? Apa ini hanya masalah kebiasaan? Untung ibu itu bisa menerima kata-kata saya dengan baik, gimana kalo itu adalah laki-laki bertubuh besar, botak, otot dan tato dimana-mana? Apa dia masih mau terima atau saya jadi sasaran bogem? (Karena terus terang, menyadari dan mengakui kesalahan adalah hal yang sulit dilakukan bukan? Apalagi terhadap orang yang tidak kita kenal dan di muka umum pula!). Saya pun mempertanyakan keberanian saya untuk melakukan hal yang sama lagi. Jangan-jangan orang akan berpikir, wah sok tau loe ah! Lalu dia (dan teman-temannya) berbondong-bondong mukulin saya!

2) Apa orang lain pada umumnya juga merasa seperti yang saya rasakan? Bila iya, apakah ini bisa saya golongkan sebagai budaya atau tipe orang Indonesia? Yaitu tahu mana yang baik dan benar, tapi kalau sudah mencakup ranah umum, seakan-akan kita kehilangan hak bicara.

3) Apa mungkin ini adalah masalah pendidikan, baik formal ataupun informal (lingkungan keluarga, dsb)? Baik perihal buang sampah sembarangan ataupun kebebasan untuk mengoreksi perbuatan orang lain di muka umum.

Nah, dari unek-unek saya di atas, saya minta pendapat teman-teman. Kira-kira bagaimana pendapat teman-teman. Atau mungkin ada usul dan ide?

Seperti biasa, kalau ternyata tulisan saya (baik isi ataupun tata tulis) menyinggung perasaan anda, saya minta maaf karena saya tidak bermaksud.  Silakan beri saya koreksi demi kebaikan perkembangan pribadi saya.

~ by Rod on February 1, 2012.

One Response to “Sedikit unek-unek soal kebersihan”

  1. Dear Mas Rod.. (rod itu klo indonesianya tongkat kn?).

    Salah satu impian saya adalah memiliki teman karib seorang bule. Kebetulan sy suka bhs ingris, n kebetulan sy besar dgn melihat acara barat. Ingin sekali memiliki tmn dg bahasa, warna kulit dan budaya yg jauuuh berbeda.

    Pernah beberapa kali pny tmn bule Online (skr sdh ilang.. Hiks..), dan dari mrk saya menyadari beberapa sifat yg berbeda dr mrk dan sy. salah satunya adalah mrk sungguh sangat percaya dengan diri sendiri, pandai membawa diri dan berani (tegas).

    dan sepertinya Mas Rod ini mirip jg. Dengan berani mengetuk jendela mobil dan mengkritik si pengendara mobil. superb dude!

    klo soal kebersihan, sepertinya emang kesadaran sdh mulai menurun. saya kira cm mas sj yg bakal marah2 spt itu ketika ada yg membuang sampah. klo saya sendiri maksimal paling cm akan ambil botol itu lalu buang kesampah. ^^ v

    Hemm mgkn kapan2 mas Rod harus main2 kesurabaya. disini ada semacam acara rutin yg dinamakan “Surabaya Green and Clean””. Semacam lomba kebersihan yg diikuti oleh semua RT RW dan kampung-kampung se surabaya. Didukung penuh oleh pemkot dan koran setempat yaitu Jawa Pos. (yg kemarin memenangkan…koran terbaik anak muda sedunia.. saya lupa tepatnya). menjadikan even ini ckp besar.

    Dikoran itu akan ditampilkan setiap hari (sampai lomba selesai) foto2 dan inovasi2 tiap2 RT RW. bener2 hijau dan inovatip (seperti mengolah sampah sehari2 jadi pupuk dsb).

    intinya, org2 yg tdnya biasa2 sj jd tergerak utk ikut bersih jg. hemmm…

    Yours Sincerely,

    DiC

    nb: salam dr tanah gresik Mas Rod.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: